Laman

Sabtu, 19 Juni 2010

Proposal Skripsi


PROPOSAL

EFEKTIVITAS LATIHAN DEPTH JUMP DAN VERTIKAL JUMP TERHADAP POWER TUNGKAI


A.    Latar Belakang Masalah.
Didalam dunia olahraga yang sifatnya persaingan untuk mencapai prestasi sangatlah dibutuhkan kondisi fisik yang baik, kondisi fisik yang prima merupakan modal dasar yang diperlukan oleh atlet untuk menghadapi berbagai pertandingan dan perlombaan.  Tujuannya agar dapat mengerahkan segala kemampuan yang dimilikinya, tapi seorang atlet tidak hanya dilatih fisiknya saja melainkan aspek-aspek lainnya pun perlu dilatih, seperti yang dikemukakan oleh Harsono (1998:104) : “Ada empat aspek yang perlu diperhatikan dan dilatih secara seksama oleh atlet yaitu, latihan fisik, latihan teknik, latihan taktik, dan latihan mental.”
Komponen-komponen latihan fisik yang sangat mendasar sangatlah penting untuk dilatih diantaranya adalah : daya tahan, kecepatan, kekuatan, dan kelentukan.  Dari komponen-komponen dasar fisik tersebut dapat dikembangkan melalui latihan yang menggabungkan antara salah satu latihan kondisi fisik dasar dengan latihan kondisi fisik dasar yang lainnya dan berkembang menjadi : power, agilitas, dan stamina.


Adapun komponen kondisi fisik yang dikemukakan oleh Harsono (1998) dalam bukunya Coaching dan aspek-aspek psikologis dalam choacing  yaitu :
Kekuatan, kecepatan, kelentukan, dan daya tahan serta power dan kelincahan sebagai pengembangan dari komponen diatas. Kekuatan adalah kemampuan otot untuk membangkitkan tegangan terhadap suatu tahanan. Kecepatan adalah kemampuan untuk melakukan gerakan-gerakan yang sejenis berturut-turut dalam waktu yang sesingkat-singkatnya atau kemampuan untuk menempuh jarak yang sesingkat-singkatnya.  Kelentukan adalah kemampuan untuk melakukan gerakan dalam ruang gerak sendi.  Daya tahan adalah keadan atau kondisi tubuh yang mampu untuk bekerja untuk waktu yang lama, tanpa mengalami kelelahan yang berlebihan setelah menyelesaikan pekerjaan tersebut

Power adalah salah satu komponen kondisi fisik yang aktivitas gerakannya gabungan antara kemampuan kekuatan maksimal dengan kecepatan maksimal, power merupakan suatu istilah yang menggambarkan kemampuan kualitas otot maksimal melalui kekuatan dan kecepatan.  Sehingga dengan dukungan power yang relatif besar diharapkan akan menghasilkan kemampuan power yang jauh lebih optimal untuk berprestasi terutama untuk cabang olahraga yang mengutamakan kemampuan power tungkai seperti lompat pada atletik, permainan bola voli, bola basket, senam lantai, dan sebagainya.  Pengertian power  menurut Harsono (2001-24) adalah : “Kemampuan otot untuk mengerahkan kekuatan maksimal dalam waktu yang amat singakat.”
Unsur fisik merupakan faktor yang paling mendasar dalam membangkitkan semangat dan motivasi atlet dalam berprestasi.  Berbagai kendala yang dihadapi para atlet Indonesia diberbagai cabang olahraga dalam mencapai prestasi, uang sampai saat ini belum memuaskan.  Ini disebabkan karena kondisi fisik yang belum cukup baik, kualitas pelatih yang masih membutuhkan peningkatan, seperti keterbatasan kemampuan dalam menerapkan sebuah metode latihan khususnya pemanfaatan metode latihan fisik yang belum optimal, dan ini belum disadari oleh kebanyakan pelatih di Indonesia. Untuk itu perlu adanya suatu kajian teoritis dan empiris yang dapat diterapkan dilapangan agar manfaat metode dalam melatih fisik lebih optimal, sebagai pengayaan metode para pelatih.
Terdapat beberapa metode yang bisa digunakan untuk meningkatkan power khususnya dalam meningkatkan kemampuan power tungkai, metode latihan yang berkaitan untuk meningkatkan kemampuan power adalah dengan metode latihan : depth jump, dan vertical jump.  Melalui kajian penelitian ini penulis mencoba melakukan eksperimen penelitian tentang efektivitas latihan depth jump dan vertical jump.
B.     Masalah Penelitian
Berdasarkan  latar belakang penelitian, telah dijelaskan latihan depth jump  dan vertical jump. Bentuk depth jump dapat meningkatkan kemampuan power tungkai maka yang menjadi rumusan masalah penelitian ini adalah sebagai berikut :
1.      Apakah latihan depth jump dapat meningkatkan secara berarti power tungkai siswa?.
2.      Apakah latihan vertical jump dapat meningkatkan secara berarti power tungkai siswa.
3.      Manakah kedua bentuk latihan depth jump dan vertical jump yang dapat meningkatkan secara berarti power tungkai siswa.

C.    Tujuan Penelitian
Sesuai dengan rumusan masalah penelitian yang diajukan, maka tujuan dari penelitian ini sebagai berikut :
1.      Untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan secara berarti latihan depth jump terhadap peningkatan kemampuan power tungkai.
2.      Untuk mengetahui apakah terdapat peningkatan secara berarti latihan vertical jump terhadap peningkatan kemampuan tungkai.
3.      Untuk mengetahui apakah terdapat perbedaan secara berarti latihan depth jump dengan latihan vertical jump terhadap peningkatan kemampuan power tungkai.

C.    Kegunaan Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan kegunaan sebagai berikut :
1.      Secara teoritis dapat dijadikan sebagai informasi dan sumbangan ilmu yang berarti dalam proses pemberdayaan atlet, khususnya dalam cabang olahraga yang lebih mengutamakan pada kemampuan power tungkai.
2.      Secara praktis dapat dijadikan pedoman dalam melaksanakan kegiatan pelatihan khususnya dalam peningkatan power tungkai.
Dari informasi ini kiranya dapat memberikan masukan yang berguna dalam upaya peningkatan prestasi para atlet, khususnya di Indonesia.


D.    Batasan Penelitian
Mengingat luasnya penelitian yang akan diteliti dan agar penelitian ini lebih terarah, maka masalah yang akan diteliti dibatasi hanya pada latihan depth jump dan latihan vertical jump, serta kemampuan power tungkai, sedangkan perlakuannya dikenakan kepada siswa putra SMPN 1 Juntinyuat Kabupaten Indramayu yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga khususnya olahraga sepak bola, basket, voli, dan bulu tangkis.
Dengan demikian batasan penelitian dan variabel dalam penelitian ini adalah :
1.      Variabel bebas dalam penelitian ini adalah latihan depth jump dan vertical jump.
2.      Variabel terikat dalam penelitian ini adalah hasil peningkatan power tungkai.
3.      Populasi penelitian ini adalah siswa SMPN 1 Juntinyuat Kabupaten Indramayu yang mengikuti kegiatan ekstarkurikuler sepak bola, basket, voli, dan bulu tangkis, sampel dipilih secara acak atau random sampel sebanyak 20 orang siswa.
4.      Alat ukur yang digunakan adalah depth jump dan vertical jump.
5.      Lokasi penelitian ini bertempat di SMPN 1 Juntinyuat Kabupaten Indramayu.

E.     Batasan Istilah
Beberapa istilah yang digunakan dalam penelitian ini perlu dibatasi sehingga tidak terjadi salah penafsiran.  Adapun istilah-istilah tersebut adalah sebagai berikut :
1.      Latihan menurut Harsono (1994:101) adalah : “Proses yang sistematis dari latihan atau bekerja yang dilakukan secara berulang-ulang, dengan beban kian hari kian bertambah.”  Latihan yang dimaksud disini adalah latihan depth jump dan vertical jump.
2.      Latihan bentuk depth jump, adalah : berdiri diatas boks (meja) lalu melompat ke atas dan ke depan, mendarat dilantai dengan mengeper, lalu serta merta melompat lagi ke atas boks kedua, dan seterusnya.
3.      Latihan bentuk vertical jump, adalah melompat di atas meja lalu turun kebawah secara berulang secara vertical.
4.      Power menurut Harsono (1988:200) adalah : “Kemampuan otot untuk mengerahkan kekuatan maksimal dalam waktu yang sangat cepat.”
5.      Tungkai menurut Achmad Damiri (1994:7) adalah : “Anggota tubuh manusia bagian bawah yang terdiri dari paha (tungkai atas), tungkai bawah, dan kaki.”

F.     Anggapan Dasar
Manusia bergerak tidak lepas dari unsur-unsur fisik faal seseorang. Setiap individu mempunyai tingkat kebugaran jasmani yang berbeda-beda, ada yang sehat secara dinamis adapun sehat secara statis tidak secara dinamis. Sehat dinamis adalah sehat dalam melakukan aktivitas kerja atau bergerak. Adapun unsur-unsur kondisi fisik yang mendukung kemampuan seseorang dalam melakukan aktivitas olahraga adalah : kecepatan, kelentukan, kekuatan dan daya tahan. Sedangkan pengembangan dari unsur-unsur komponen kondisi fisik dasar tersebut adalah: power (kekuatan dan keceptan), agilitas (kelentukan dan kecepatan), dan stamina (kecepatan dan daya tahan).
Untuk melatih kemampuan fisik terdapat berbagai macam cara dan metode yang dapat digunakan dalam bentuk latihan yang dapat diterapkan ketika dilapangan. Dalam melatih power, metode latihan yang dapat digunakan tidak terbatas pada latihan depth jump atau vertical jump, latihan ini merupakan salah satu metode latihan yang sangat baik untuk dapat meningkatkan kemampuan power. Dengan metode latihan ini diharapkan para pelatih tidak selalu berpatokan untuk meningkatkan power harus dengan menggunakan metode latihan depth jump atau vertical jump. Dalam penelitian ini penulis mencoba untuk melakukan penelitian tentang perbandingan antara latihan depth jump  dan latihan vertical jump terhadap peningkatan power tungkai.
1.        Pengaruh   Latihan   depth jump  Terhadap Peningkatan Power Tungkai
Banyak bentuk latihan depth jump yang digunakan untuk melatih power tungkai salah satunya adalah latihan squat, bentuk latihan squat dilakukan secara eksplosif dengan menggunakan 3 set, tiap setnya adalah 12-15 Repetisi Maksimal, dengan beban latihan disesuaikan dengan kemampuan masing-masing. Contoh gerakannya adalah : pada saat isometric beban langsung didorong keatas, lalu beban diturunkan perlahan, dan pada saat isometric kembali beban langsung didorong keatas dengan kuat dan cepat. Berdasarkan karakteristik gerak dan pembebanan latihan diatas maka diduga latihan squat akan memberikan peningkatan yang berarti terhadap peningkatan kemampuan power tungkai.
2.      Pengaruh   Latihan  vertical jump  Terhadap Peningkatan Power Tungkai
Latihan vertical jump merupakan salah satu metode dan bentuk latihan pembanding, karena latihan ini juga dapat meningkatkan power tungkai, bentuk latihan vertical jump dilakukan secara eksplosif dengan menggunakan 3 set, tiap setnya terdiri dari 15 repetisi dengan waktu istirahat tiap set adalah 3-5 menit, ketinggian bok 20-50cm sebagai beban latihan.
3.      Pengaruh Latihan depth jump dan vertical jump Terhadap Peningkatan Power tungkai
Dari kedua bentuk metode latihan diatas antara latihan depth jump dengan latihan vertical jump, latihan weight training mempunyai kelebihan dari cara latihan yang menggunakan beban dari luar dan aktivitas gerak yang cenderung pasif (diam ditempat) sehingga otot tungkai harus bekerja secara eksplosif untuk mengangkat beban dengan kuat dan cepat, maka dengan latihan vertical jumpa ini diharapkan akan menambah kemampuan dari otot tungkai dalam melakukan aktivitas gerak eksplosive pada saat melakukan gerakan secara aktif seperti melompat keatas atau kedepan, sedangkan latihan depth jump mempunyai kelebihan dari cara latihan yang menggunakan alat bantu berupa bok yang digunakan sebagai beban latihan, dengan alat ini sampel akan melakukan lompatan dari atas bok, sampel mempunyai beban latihan tidak hanya dari tubuhnya sendiri tapi ditambah dengan dorongan gravitasi bumi yang menambah berat beban sample untuk melakukan lompatan kembali keatas.

G.    Hipotesis
Hipotesis sangat diperlukan dalam suatu penelitian karena dengan hipotesis, peneliti akan mendapat jawaban sementara terhadap permasalahan yang akan diteliti sampai terbukti melalui data yang terkumpul, seperti yang diungkapkan Arikunto (1991:62) bahwa :  "Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai terbukti melalui data yang terkumpul."
Berdasarkan pendapat yang dikemukakan dalam kerangka berfikir diatas maka penulis merumuskan hipotesis penelitian sebagai berikut :
  1. Terdapat peningkatan yang berarti dari latihan depth jump terhadap power tungkai siswa.
  2. Terdapat peningkatan yang berarti dari latihan vertical jump terhadap power tungkai siswa.
  3. Terdapat peningkatan yang berarti dari latihan depth jump dan latihan vertical jump terhadap kemampuan power tungkai siswa.
Dari ketiga hipotesis yang diajukan maka penulis mengajukan hipotesis Statistika sebagai berikut :
  1. Hipotesis pertama yang diajukan adalah sebagai berikut :
Ho : ,         Tidak terdapat peningkatan yang berarti dari latihan depth jump terhadap power tungkai siswa.
HA : ,     Terdapat peningkatan yang berarti dari latihan vertical jump terhadap power tungkai siswa.

  1. Hipotesis kedua yang diajukan adalah sebagai berikut :
Ho : ,          Tidak terdapat peningkatan yang berarti dari latihan depth jump terhadap power tungkai siswa.
HA : ,       Terdapat    peningkatan    yang    berarti    dari    latihan vertical jump terhadap power tungkai siswa.
  1. Hipotesis ketiga yang diajukan adalah sebagai berikut :
Ho : μ1 ≤ μ2,           Tidak terdapat perbedaan peningkatan yang berarti dari latihan depth jump dengan latihan vertical jump terhadap kemampuan power tungkai siswa.
HA : μ1 > μ2,    Terdapat perbedaan peningkatan yang berarti dari latihan depth jump dengan latihan vertical jump terhadap kemampuan power tungkai siswa.

H.    TINJAUAN TEORITIK
1.      Hakikat Latihan
Hakikat menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Edisi Ketiga (2003:383) adalah : 1. Intisari atau dasar. 2. Kenyataan yang sebenarnya (sesungguhnya).
Untuk dapat menjadikan seorang atlet yang berprestasi maksimal maka proses pembentukan atlet harus dimulai dari usia dini sampai pada titik puncak penampilannya, proses pembentukan ini harus dimulai dengan cara memberikan latihan yang berkesinambungan hingga terjadi perubahan dari kemampuan atlet yang tadinya belum mahir tetapi dengan melakukan latihan maka kemampuannya menjadi mahir, banyak orang melakukan latihan tapi sebenarnya mereka tidak berlatih dengan baik dan benar, hal ini disebabkan karena mereka tidak memahami tentang pengertian dari latihan itu sendiri. Latihan menurut Harsono (1998:101) sebagai berikut : "Latihan atau training adalah suatu proses berlatih yang sistematis yang dilakukan secara berulang-ulang, dan yang kian hari jumlah beban latihannya kian bertambah". Jadi berdasarkan pendapat diatas bahwa makna latihan adalah proses yang berkesinambungan dan teratur mulai dari latihan yang rnudah sampai pada yang lebih rumit dan dilakukan secara berulang kali dengan jumlah beban latihan yang makin bertambah.
Dalam latihan harus mempunyai tujuan dan sasaran latihan, dengan sasaran dan tujuan utama itu akan membantu atlet dalam meningkatkan keterampilan dan prestasi yang yang lebih baik. Untuk mencapai hal tersebut maka ada empat aspek yang perlu diperhatikan dan dilatih secara seksama. Harsono (1998:100) menjelaskan bahwa : "Ada empat aspek latihan yang perlu diperhatikan dan dilatih secara seksama oleh atlet, yaitu : a) latihan fisik, b) latihan tehnik, c) latihan taktik, d) latihan mental". Dalam penelitian ini peneliti akan melakukan penelitian tentang pentingnya latihan fisik dalam meningkatkan prestasi, karena tanpa kondisi fisik yang baik atlet tidak akan dapat mengikuti latihan-latihan dengan sempurna. Ada beberapa komponen kondisi fisik yang perlu dilatih supaya atlet dapat berprestasi dalam pertandingan atau dalam latihan yaitu : daya tahan, kelentukan, kecepatan, dan kekuatan. Harsono (1998:100) menjelaskan bahwa : "Beberapa komponen kondisi yang perlu diperhatikan untuk dikembangkan adalah, daya tahan cardiovascular, daya tahan kekuatan, kekuatan otot (strength), kelentukan (flexibility), kecepatan, stamina, kelincahan (agility), Power". Komponen-komponen kondisi fisik tersebut merupakan bagian yang utama dan harus diperhatikan dalam melakukan latihan dan perkembangan prestasi atlet. Diantara beberapa komponen fisik tersebut adalah power. Power merupakan salah satu komponen kondisi fisik yang perlu dilatih dan diperhatikan secara seksama.

2.      Hakikat Power
Salah satu unsur terpenting dalam mencapai prestasi yang optimal dalam olahraga prestasi adalah power. Karena power dibutuhkan oleh semua cabang olahraga, terutama yang menuntut daya ledak otot yang eksplosif seperti nomor lompat dalam atletik, bela diri, olahraga permainan, dan lain-lainnya. Hal ini oleh Harsono (1998:200) dijelaskan :
Power terutama penting untuk cabang-cabang olahraga dimana atlet harus mengerahkan tenaga yang eksplosif seperi nomor-nomor lempar, dalam atletik dan melempar bola softball, juga dalam cabang-cabang olahraga yang mengharuskan atlet untuk menolak dengan kaki, seperti nomor lompat dalam atletik, sprint, voli (untuk smash), balap sepeda, mendayung, renang, dan sebagainya.

Power merupakan salah satu komponen kondisi fisik yang menggabungkan kemampuan kekuatan maksimal yang dibarengi dengan kecepatan maksimal. Jika seorang atlet memiliki kekuatan yang bagus dan memiliki kecepatan yang bagus maka otomatis atlet tersebut akan memilki power yang bagus pula. Berikut adalah pengertian power menurut Harsono (1998:200) adalali: "Kemampuan otot dalam mengerahkan kekuatan yang maksimal dalam waktu yang sangat cepat". Menurut Bompa (1999:161) adalah: "Power is the ability of the neuromuscular system to produce the greatest possible force in the shortest amount of time ". Menurut Paulus menjelaskan bahwa power dikategorikan menjadi tiga yaitu :
a.         Eksplosive Strength adalah kemampuan sistem neuromuskular untuk terus manambah kekuatan yang sudah didapat dalam waktu yang sesingkat mungkin.
b.        Starting  Strength,   menurut   lan   King,  adalah   "instantaneous
rekrutment of fast twitch fibre
" yang dapat diterjemahkan sebagai
berikut : "pengerahan spontan benang-benang otot yang cepat"
c.         Reactive Strength, menurut lan King adalah kontraksi konsentrik dengan kecepatan tinggi segera setelah kontraksi eksentrik atau presetrech.

Jadi berdasarkan pernyataan tersebut maka kemampuan power adalah usaha mengerahkan kekuatan yang maksimal secara cepat saat menerima tahanan. Dan itu merupakan suatu kebutuhan yang sangat diperlukan untuk cabang olahraga yang karakteristik geraknya eksplosif, seperti jump shot dalam bola basket, take off dalam nomor lompat, dan lain sebagainya.
Komponen kondisi fisik khususnya power merupakan aspek yang sangat penting untuk meningkatkan kebugaran jasmani, dalam pembinaan kondisi fisik, kita perlu mengenal bagian tubuh yang akan dilatih karena dalam setiap cabang olahraga berbeda-beda sesuai dengan kebutuhan pola gerak dalam cabang olahraga itu sendiri. Salah satunya adalah bagian tubuh bawah (lower body) yaitu tungkai.
Tungkai adalah bagian dari tubuh yang diukur mulai dari ujung trachanter major (tungkai atas) sampai telapak kaki pada saat orang berdiri tegak. Tungkai disusun oleh tulang paha, tulang tempurung lutut, tulang kering, tulang betis, tulang pangkal kaki, tulang telapak kaki, dan tulang jari-jari kaki. Tungkai sebagai anggota tubuh bagian bawah berfungsi sebagai penahan beban anggota tubuh bagian atas (upper body) dan segala bentuk gerakan ambulasi harus memiliki kekuatan yang baik.
Adapun fungsi tungkai menurut Achamd Damiri (1994:56) menyatakan bahwa : “Tungkai sesuai fungsinya sebagai alat gerak ia menahan gerak badan bagian atas, ia dapat memindahkan tubuh (bergerak), ia dapat memindahkan tubuh kearah atas dan lain sebagainya”.
Tungkai sesuai dengan fungsinya dibentuk oleh beberapa tulang maka harus memiliki kekuatan sehingga dapat mempertahankan garis tegak atau garis vertical agar dapat menyangga anggota tubuh.
Dalam melatih power tungkai diperlukan suatu metode latihan yang tepat dalam pelaksanaan proses latihannya, untuk meningkatkan kemampuan power maka metode latihan yang baik harus diterapkan dalam proses latihan. Metode latihan untuk meningkatkan power dapat menggunakan metode latihan set system dan TCSS (weight training) metode ini merupakan metode latihan yang menggunakan beban dari luar atau mesin, selain dengan kedua metode latihan tersebut bisa juga dengan menggunakan badan/tubuh sendiri sebagai beban sehingga dapat dijadikan latihan untuk meningkatkan kemampuan power yaitu dengan metode latihan Plyometric. Latihan weight training dan latihan plyometric merupakan dua macam latihan yang bertujuan untuk melatih power.



3.      Hakikat Latihan Depth Jump
Latihan Depth jump merupakan salah satu cara untuk melatih kekuatan. Oleh karena itu latihan-latihan yang cocok dalam memperkembang kekuatan adalah latihan-latihan tahanan (resistance exercises), di mana kita harus melakukan kegiatan beban. Beban itu bisa beban anggota tubuh kita sendiri, ataupun beban atau bobot dari luar (external resistance). Agar efektif hasilnya, latihan-latihan tahanan haruslah dilakukan sedemikian rupa sehingga atlet harus mengeluarkan tenaga maksimal atau hampir maksimal untuk menahan beban tersebut. Latihan-latihan tahanan menurut kontraksi ototnya, dapat digolongkan dalam tiga kategori, yaitu kontraksi isometris, kontraksi isotonis, dan kombinasi dari kedua kontraksi tersebut, yaitu kontraksi isokinetis.
Kontraksi isometris menurut Harsono (1998:179) adalah "...dalam kontraksi isometris otot-otot tidak memanjang atau memendek sehingga tidak akan nampak suatu gerakan yang nyata, atau dengan perkataan lain, tidak ada jarak yang ditempuh". Suatu contoh kontraksi isometris adalah, mendorong, mengangkat, atau menghela suatu obyek atau benda yang tidak dapat digerakkan seperti tembok, lemari besi, mobil, dan sebagainya.
Kontraksi isotonis menurut Harsono (1998:183) adalah,
Sistem latihan yang ototnya berkontraksi secara isotonis akan nampak bahwa ada terjadi suatu gerakan dari anggota-anggota tubuh kita yang disebabkan oleh memanjang dan memendeknya otot-otot, sehingga terdapat perubahan dalam panjang otot. Tipe kontraksi ini disebut juga dynamic contraction.

Dalam latihan-latihan isotonik kita dapat memakai badan kita sendiri sebagai beban. Akan tetapi oleh karena latihan-latihan tersebut harus merupakan progresive isotonic training yang makin lama makin membutuhkan bobot yang lebih berat, maka diperlukan beban lain yang tidak ada pada tubuh kita.
Salah satu bentuk latihan tahanan secara isotonis yang paling populer dalam dunia olahraga adalah latihan depth jump. Latihan ini merupakan latihan yang sistematis dimana beban yang dipakai sebagai alat latihan dapat diatur sesuai dengan kemampuan dalam melompat, depth jump yang dilakukan dengan baik serta diatur dan ditempatkan didalam jadwal latihan yang tepat, akan banyak membantu meningkatkan prestasi atlet, sebab peningkatan kekuatan serta daya tahan otot diperoleh sedikit demi sedikit sesuai dengan proses adaptasi didalam tubuh manusia. Penambahan beban secara sistematis ini dinamakan dengan Progressive Resistance Erercise untuk menambah kekuatan otot guna mencapai berbagai tujuan tertentu.


4.      Hakikat Latihan Plyometric
Selain dengan weight training latihan plyometric merupakan salah satu latihan yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan power. Harsono (1990:2) menjelaskan bahwa : "Selain dengan latihan beban yang amat baik untuk membuat otot memiliki daya ledak yang hebat (eksplosif) adalah dengan yang disebut plyometric". menurut Radclliffe dan Farentinos (1999:1) adalah : "Plyometric is a method of develoving explosive power". Maksudnya adalah latihan plyometrik merupakan salah satu metode latihan untuk meningkatkan kemampuan power.
Jadi berdasarkan pernyataan diatas menyatakan bahwa metode latihan plyometric merupakan salah satu metode latihan yang dapat meningkatkan kemampuan power. Latihan plyometric adalah latihan yang dirancang khusus untuk melatih power, karena latihan ini menuntut gerak yang eksplosif pada saat lompat, pukul, sit-up, jingkat, dan harus dilakukan sesegera dan semulus mungkin setelah melakukan gerakan yang berlawanan seperti pada saat jongkok, berbaring. dan gerak ayun lengan ke belakang, menurut Sunarko Setyawan dan Elyana Asnar (1999:1) adalah : "Pada dasarnya latihan pliometrik adalah gerakan dari rangsangan peregangan otot secara mendadak supaya terjadi kontraksi peregangan otot yang lebih kuat". Sedangkan Paulus (1994:20) menjelaskan bahwa : "Latihan plyometric adalah latihan-latihan yang bertujuan untuk meningkatkan kekuatan reaktif. Jadi latihan peningkatan kemampuan power dengan menggunakan metode latihan plyometric berbeda dengan metode latihan weight training karena latihan power dengan metode plyomelric dapat dilakukan tanpa alat maupun dengan menggunakan alat, kalaupun menggunakan alat maka dapat digunakan dengan peralatan yang lebih sederhana jika di bandingkan dengan latihan weight training. Bentuk-bentuk latihan plyometric untuk anggota tubuh bagian bawah adalah : leap frog, jingkat (hoping), bounding strides, bounding drives, lompatan dari ketinggian (depth jump). Dan bentuk-bentuk latihan untuk anggota tubuh bagian atas adalah : lempar bola medicine, dorong kaki, push- up dengan tepuk tangan, V sit- up, back- up, pull over, dan dorong  zandzak. Bentuk-bentuk latihan plyometric tersebut menurut Paulus (1994:20) adalah : "Latihan plyometric adalah latihan-latihan yang berusaha mentransfer kekuatan maksimal menjadi kekuatan yang cepat dalam hal ini khususnya kekuatan reaktif. Dalam proses latihannya, latihan plyometric ini dapat diberikan pada tahap persiapan khusus sebelum pertandingan seperti yang dijelaskan oleh Paulus (1994:20) bahwa :
Plyometric bisa diberikan sepanjang tahun, tetapi terutama di specipic preparatory dan comp period, plyometric baru bermanfaat bila dilakukan dengan tenaga 100% dan dengan saraf-saraf yang segar sebab itu plyo hendaknya merupakan item latihan yang pertama sesudah teknik dan speed.

Dalam penelitian ini peneliti akan meneliti tentang perbandingan latihan squat (weight training) dengan latihan depth jump (plyometric) terhadap peningkatan power tungkai.
Prinsip-prinsip  latihan plyometric bentuk latihan  depth jump menurut pendapat Harsono (2000:42-43) adalah :
1.      Makin cepat dan makin jauh otot diregangkan (misalnya waktu jongkok, makin besar energi konsentrik (concentric force) yang dihasilkan usai peregangan tersebut. Maka hasilnya ialah gerakan yang lebih kuat (forceful) untuk mengatasi beban (inertia dari obyek), baik beban itu tubtuh kita sendiri maupun beban eksternal obyek, baik beban itu tubuh kita sendiri maupun beban eksternal (tolak peluru, mengangkat beban, mem-blok zandzak dan dsb)
2.      Gerakan setelah tahap pra-regang harus dilakukan secara eksplosif, serta sesegera dan semulus mungkin.
3.      Kekerapan (rate) dan tingginya melakukan lompatan lebih penting dari pada jauhnya lompatan.
4.      Gerakannya (lompatan, tolakan, dorongan, pukulan, dll.) harus dilakukan secara maksimal. Kalau tidak, atau dilakukan setengah-setengah saja, tidak akan ada manfaatnya untuk perkembangan power. Pada permulaan latihan lompat ke atas, sudut tungkai sebaiknya jangan kurang dari 45 derajat dahulu.
5.      Bila menggunakan bangku untuk dilompat, mulailah dengan bangku yang tingginya tidak lebih dari 30cm. kalau otot sudah semakin kuat, tingkatan ketinggiannya secara progresif sampai kira-kira 80cm. jadi prinsip overload (dengan system wavelike atau system tangga) (Harsono: 1988) berlaku pula dalam latihan plyometric.
6.      Intensitas latihan harus pula diterapkan untuk menjamin perkembangan power yang semakin baik (misalnya dengan membawa/menggunakan beban pada waktu melompat, melempar, mendorong dsb).
7.      Permukaan (surface) untuk melompat sebaiknya yang empuk (rumput, matras dari karet), atau memakai "heel cups". Tujuannya ialah guna melindungi anggota-anggota badan bagian bawah dari kemunginan cedera.
8.      Elastisitas otot-otot penting untuk menghasilkan "potensial elastic energy". Contoh potensi energi yang elastis : pada waktu kita menarik karet, maka akan timbul potensi energi pada karet itu untuk cepat kembali ke panjang karet sebelum ditarik.
9.      Sesuai dengan sistem energi yang digunakan, tujuan latihan plyometric bukanlah untuk melatih kapasitas aerobic. Latihan plyometric adalah murni latihan anaerobic yang menggunakan system energi keratin fosfat (Chu:1992). Karena itu, istirahat antara setiap set (misalnya 5 set X 10 repetisi), jangan terlampau singkat. Sebab kalau istirahatnya kurang penuh, kualitas gerakan dan daya eksplosifnya akan berkurang.

a.      Latihan Depth Jump
Latihan plyometric bentuk depth jump merupakan bentuk latihan yang mempunyai tujuan yang sama yaitu melatih kemampuan power tungkai tapi dalam pelaksanaan bentuk latihan ini menuntut pada tingginya hasil lompatan setelah melakukan lompat dari ketinggian.
Analisis Gerakan depth jump menurut Harsono (200:43) adalah : "Berdiri diatas boks atau meja lalu melompat keatas dan kedepan : mendarat dilantai dengan mengeper, lalu dengan serta merta melompat lagi keatas boks kedua, dst". Dalam latihan depth jump untuk penambahan beban lebihnya adalah dengan menambah ketinggian dari boks, ukuran ketinggian boks disesuaikan dengan kemampuan sampel. Menurut Matt Woroczak (1998:1) yang diambil dari beberapa sumber adalah :
Optimal box height for professional athletes ranges from 75-11 Ocm, with up to 3.2 metres used for setting exercises to increase eccentric strength (Verhoshansky and Chormonson, 1967). Shorter boxes (less than 60cm) are used for athletes learning the techniques (Voight and Dracovitch, 1991).

Maksud dari kutipan diatas adalah untuk ketinggian boks bagi atlet profesional adalah 75-110cm, sampai dengan 3,2 meter yang digunakan untuk penyusunan tingkat kekuatan eksentrik. Untuk atlet yang mempelajari teknik maka box yang digunakan adalah boks ukuran terendah mulai dari 60cm. Sedangkan usia anak dan remaja latihan plyometric bentuk depth jump dapat di berikan dengan ketinggian boks yang berukuran rendah, Matt Woronczak (1998:4) mengemukakan :
Consensus is that if depth jumps are to be utilised, very small boxes are used (ie less than 15cm) due to the high forces created, and if this form of training was considered, it should be fun and consist of more child activity related than a formalised program (Radcliffe and Farenlinos, 1985).

Maksud dari kutipan diatas adalah berdasarkan hasil penelitian, latihan depth jump untuk anak dan remaja ukuran boks yang digunakan adalah mulai dari 15cm. Untuk berat lompatan yang dihasilkan maka tekanan harus benar-benar diperhitungkan supaya aktivitas anak senang dan seimbang untuk melakukan gerak yang lebih kepada program pembentukan.
Pada latihan depth jump ini penulis mengambil patokan ketinggian boks 20cm sampai 50cm, berdasarkan pada tabel latihan yang diambil dari sumber power training for sport (Bompa. 1994) :


Itensity values
#


Type of exercice


Intensity of exercice


No. of reps/and sets

No. of Reps/Training Session


Rest interval Between sets

1
Shock Tension High Reactive Jumps
> 25' (>60cm)

Maximal


8-5x10-20

120-
150(200)

8-10 min
2

Drops Jumps
> 35-48 (80-120cm)
Very High
5-15x5-15

75-100

5-7 min

3

Bounding Exercises
-  2 legs
-  1 legs

Submaximal


3-25x5-15


50-250


3-5 min

4

Low Reactive Jumps
8 - 20'
(20-50cm)

Moderate


10-25x10-25


150-250


3-5 min

5

Low Impact Jumps/Throws
-  On Spot
-  Implement
Low


10-30x10-15


50-300


2-3 min


Pada latihan bentuk depth jump terjadi gabungan yang komplek dari efektifitas latihan dinamis negatif yang positif seperti yang dikemukakan oleh Imam Hidayat (1999:62) adalah : "Dimana banyak terdapat gerakan melompat-lompat dan gerakan turun/mendarat dari suatu ketinggian, proses kontraksi dinamis negatif sangat dominan".
Dengan pemberian latihan yang sesuai dengan prinsip-prinsip latihan plyometric maka latihan depth jump akan memberikan peningkatan yang berarti terhadap power tungkai.


I.       METODELOGI PENELITIAN
Dalam suatu metode penelitian diperlukan suatu metode yang tepat untuk menunjang tercapainya tujuan penelitian. Metode adalah cara atau jalan yang ditempuh untuk mencapai tujuan. Tujuan penelitian adalah untuk mengungkapkan, menggambarkan dan menyimpulkan hasil pemecahan masalah melalui cara-cara tertentu sesuai prosedur penelitian.
Adapun metode penelitian yang digunakan dalam peneliti dalam menjawab dan memecahkan suatu permasalahan ini adalah dengan metode eksperimen. Metode eksperimen yaitu suatu metode penelitian dengan cara mengadakan kegiatan percobaan terhadap variabel-variabel yang diselidiki untuk mendapatkan suatu hasil. Arikunto (1998:4) menjelaskan bahwa :
Eksperimen adalah suatu cara untuk mencari hubungan sebab akibat (hubungan kausal) antara dua faktor yang sengaja ditimbulkan oleh peneliti dengan mengeliminir atau mengurangi atau menyisihkan faktor-faktor lain yang bisa mengganggu.

Dengan kata lain eksperimen adalah mengadakan kegiatan percobaan untuk melihat suatu hasil, dan hasil itu yang akan menegaskan bagaimanakah hubungan sebab akibat antara variabel-variabel yang diselidiki. Tujuan bereksperimen bukanlah pada pengumpulan dari deskripsi data, melainkan pada penemuan faktor-faktor penyebab dan faktor-faktor akibat. Eksperimen pada umumnya dianggap sebagai metode penelitian yang paling canggih dan dilakukan untuk menguji suatu hipotesis.
Metode eksperimen digunakan atas dasar pertimbangan bahwa sifat penelitian ini adalah membandingkan pengaruh bentuk latihan depth jump dengan bentuk latihan vertical jump terhadap peningkatan/power tungkai.
Kedua metode latihan tersebut kemudian dipraktekkan kepada kelompok sampel sesuai dengan program latihan yang telah disusun. Sebelum dan sesudah proses latihan power tungkai untuk membandingkan hasil latihan depth jump dengan latihan vertical jump.


                 
J.      Populasi dan Sampel
Populasi penelitian adalah sejumlah siswa SMPN 1 Jutinyuat Kabupaten Indramayu.
Populasi dapat diartikan sebagai objek penelitian. menurut Sudjana (1993:6) batasan mengenai populasi dan sampel adalah :
Populasi adalah totalitas semua yang mungkin hasil menghitung atau pengukuran, kuantitatif maupun kualitatif mengenai karakteristik tertentu dari semua anggapan kesimpulan yang lengkap dan jelas yang ingin dipelajari sifat-sifatnya, sedangkan sampel adalah sebagian yang diambil dari populasi.

Populasi terjangkau dalam penelitian ini diperoleh sebanyak 40 orang yang mengikuti kegiatan ekstrakurikuler olahraga, adapun ciri-ciri atau sifat-sifat populasi sebagi berikut :
1.         Berusia antara 13-15 tahun.
Seluruh populasi adalah siswa (laki-laki) SMPN 1 Juntinyut Kabupaten Indramayu yang mengikuti kegiatan ektrakulikuler olahraga san mengikuti latihan di klub-klub olahraga diluar sekolah.
Sampel menurut Arikunto (1998:119) adalah : "sebagian atau wakil dari populasi yang diteliti". Dari 40 siswa kemudian diambil 50% dari jumlah populasi sehingga didapat 20 orang untuk sampel. selanjutnya menjelaskan tehnik pengambilan sampel, peneliti dapat menggunakan tehnik random sampling atau sampel acak. "Teknik pengambilan sampel adalah Random sampling, teknik sampling ini diberi nama karena didalam pengambilan sampelnya, peneliti "Mencampur" subjek-subjek didalam populasi sehingga semua subjek dianggap sama". Arikunto (1998: 120).
Prosedur yang digunakan untuk membagi sampel menjadi dua kelompok adalah dengan cara menyusun prestasi dari yang paling tinggi sampai yang paling rendah. Kemudian menyusun kelompok berdasarkan nomor urutan misalkan nomor urut ganjil untuk kelompok A akan diberikan latihan depth jump (plyometric). dan nomor urut genap untuk kelompok B akan diberikan latihan vertical jump. Berdasarkan hasil pembagian tersebut maka terbentuklah dua kelompok yaitu kelompok A sebanyak 10 untuk latihan depth jump (plyometric), dan kelompok B sebanyak 10 orang untuk latihan vertical jump.

K.    Desain Penelitian





keterangan:
RA          =          Kelompok A hasil Random Tes avval
RB        =          Kelompok B hasil Random Tes awal
O1        =          Tes awal Vertikal jump
T1         =          Treatment Kelompok A (perlakukan berupa latihan depth jump}
T2           =          Treatment Kelompok B (perlakukan berupa latihan vertical jump)
O2        =          Tes akhir
Adapun langkah-langkah yang penulis lakukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
a.       Menetukan populasi
b.      Memilih dan menetapkan sample
c.       Mengadakan tes awal
d.      Membagi dua kelompok, kelompok A dan kelomok B
e.       Melaksanakan latihan
f.       Melakukan tes akhir
g.      Mengolah data
h.      Melakukan penguj an hipotesa
i.        Mengambil kesimpulan
Sesuai dengan penelitian, maka penulis dapat membuat langkah langkah penelitian sebagai berikut :





















Gambar 4
Langkah-Iangkah penelitian







L.     Instrumen Penelitian
Dalam usaha memperoleh data penelitian maka penelitian diperlukan alat ukur untuk mengetahui kekurangan dan kemajuan-kemajuan yang telah dicapai. Nurhasan (1994:1) mengemukakan bahwa : "dalam proses pengukuran membutuhkan alat ukur. Dengan alat ukur ini akan mendapatkan data yang merupakan hasil pengukuran". Dan alat ukur yang penulis gunakan adalah :
1.      Tes awal dan akhir power pada tungkai,dengan tes Vertikal jump. Tujuannya : Untuk mengetahui hasil peningkatan latihan power tungkai pada tes awal dan akhir.

M.   Prosedur Pengolahan Data
Data yang terkumpul dari hasil pengukuran berdasarkan tes power lengan pada sampel penelitian, dianalisis dengan menggunakan teknik analisis statistik uji-t, adapun langkah-langkahnya sebagai berikut:
  1. Menghitung Nilai Rata-rata
Mencari nilai rata-rata (X) dari setiap kelompok data dengan rumus:
Arti tanda-tanda rumus diatas/adalah:   
 = Mean atau nilai rata - rata yang dicari
Xi  = Jumlah skor atau nilai yang diperoleh
n    = jumlah sampel
Σ   = jumlah dari

  1. Menghitung Simpangan Baku.
Mencari simpangan baku dari setiap kelompok data dengan menggunakan rumus:
S =
Arti tanda-tanda rumus di atas adalah:
S       =     simpangan baku yang dicari
Σ       =     Sigma atau jumlah
X       =     nilai data mentah
       =     nilai rata - rata yang dicari
n - 1   =     jumlah sampel dikurangi satu

  1. Uji Normalitas
Rumus yang digunakan adalah dengan uji kenormalan secara non   parametrik  yang  dikenal  dengan  uji  liliefors. Untuk  pengujian hipotesis nol, ditempuh dengan prosedur sebagai berikut:
a.       Pengamatan X1, X2, ... ..., Xn dijadikan bilangan baku Z1, Z2, ... ..., Zn dengan menggunakan rumus : 
(X  dan   S   merupakan  rata -  rata dan  simpangan  baku  setiap kelompok butir tes).
b.      Untuk tiap bilangan baku ini, menggunakan daftar distribusi normal baku, kemudian dihitung peluang F (Zi) = P (Z ≤ Zi).
c.       Selanjutnya dihitung proporsi Z1, Z2, ..., Zn yang lebih kecil atau sama dengan Zi. Jika proporsi ini dinyatakan oleh S (Zi), maka
S (Zi) =   
d.      Hitung selisih F (Zi) - S (Zi) kernudian tentukan harga mutlaknya.
e.       Ambil harga yang paling besar diantara harga-harga mutlak selisih tersebut. Sebutlah harga terbesar ini (Lo).
f.       Untuk menerima atau menolak hipotesis nol, maka kita bandingkan Lo ini dengan nilai kritis L yang diambil dari daftar nilai kritis L untuk uji Liliefors, dengan taraf nyata α (penulis menggunakan α = 0,05). Kriterianya adalah tolak hipotesis nol bahwa populasi berdistribusi normal, Jika Lo yang diperoleh dari pengamatan melebihi L dari daftar kritis uji Liliefors. Dalam hal lain hipotesis nol diterima. (Sudjana, 1989: 466-467).
  1. Uji Homogenitas
Menguji homogenitas sampel dengan menggunakan rumus:
F =
Kriteria pengujian homogenitas adalah terima Ho jika, F (1- α)(n - 1) < F < F1/2 α (n1-l, n2 -1) dan tolak jika , F >Fl/2 α (V1,V2).

  1. Uji Rata-rata Satu Pihak
Rumus t = 
a.    Kriteria:  Penerimaan dan penolakan.
-       Terima Ho Jika thitung < t1-0,05
-       Tolak Ho Jika thitung > t1-0,05
b.    Batas penerimaan dan penolakan hipotesis
T < t1- α
1-0,05
0,95
dk :             =  n1-l
= 10-1
=  9

  1. Uji Signifikansi Perbedaan dua Rata-Rata Satu Pihak
Uji t Rumus:  t =
S =
a.       Kriteria Penolakan dan Penerimaan Hipotesis:
-       Terima hipotesis jika thitung < t0,05
-       Tolak hipotesis jika thitung > t0,05

b.      Batas penerimaan dan penolakan hipotesis
1 - α
1-(0,05)
0,95
dk  =          n1+n2-2
= 10+10-2
= 18

2 komentar:

  1. Radclliffe dan Farentinos
    BKU ITU DMN DAPETNYA

    BalasHapus
  2. BUKU TENTANG PLYOMETRICS INI (Radclliffe dan Farentinos)
    DMN DAPETNYA

    BalasHapus